Kamis, 25 Juni 2020

Membuat Tempe, Ternyata Mudah



Assalamualaikum,
Halo teman semua apa kabar? Semoga selalu baik dan sehat ya, aamiin. Tetap semangat menapaki hari menuju New Normal. Lama rasanya sejak pandemi Covid-19 tidak isi blog. Hanya isi tugas-tugas saja. Yuk ah mulai semangat lagi. Belajar tentang membuat tempe yuk!
"Lagi-lagi buat kering tempe." Goda adik saat melihat saya sedang menggoreng tempe yang akan dibuat kering tempe.

"Lha, memang ada yang salah dengan tempe? Ini mau dibawa bekal untuk kumpul komunitas kok. Banyak orang dijamin ludes deh." Sahutku.

"Ya...Ya." Lanjutkan, katanya sembari mengacungkan jempol ke arah saya.

Saya tersenyum sendiri dan melanjutkan pekerjaan sore itu. Hem, jujur saya jadi penasaran dengan tempe. Mengapa keberadaannya terkadang dipandang sebelah mata. Seperti apa sejarahnya? Kebetulan di rumah punya stok kedelai lokal yang saya beli saat pulang kampung. Belum diolah, rencana memang saya mau belajar membuat tempe. Jadilah saya berdiskusi dengan Ibu melalui gawai  tentang cara membuat tempe.

Kata Ibu, tempe butuh banyak air untuk mencuci. Prosesnya tak sulit asal telaten dan punya ragi tempe pasti bisa. Tambahan info alat-alat yang digunakan harus bersih agar fermentasi bisa maksimal. Wah saya jadi makin penasaran dong.

Baiklah teman, sebelum praktik mari kenali tempe dari sejarahnya. Dari berbagai sumber yang saya baca, tempe sekarang sudah mendunia. Ah, luar biasa.

Menurut Wikipedia tempe adalah makanan orang Jawa yang terbuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".

Tidak seperti makanan kedelai tradisional lain yang biasanya berasal dari Cina atau Jepang, tempe berasal dari Indonesia. Makanan tradisional ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu, dalam tatanan budaya makan masyarakat Suku Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta. Dalam bab 3 dan bab 12 manuskrip Serat Centhini dengan seting Jawa abad ke-16 (Serat Centhini sendiri ditulis pada awal abad ke-19) telah ditemukan kata "tempe", misalnya dengan penyebutan nama hidangan jae santen tempe (sejenis masakan tempe dengan santan) dan kadhele tempe srundengan.

Tuh kan, bangga dengan tempe ya harusnya. Ini asli Indonesia dan mendunia. Tempe disukai vegetarian sebagai tambahan protein nabati dalam menu vegan.

Yuk, dilanjut membaca proses membuatnya. Ini pertama kali saya buat tempe, jadi tanpa ekspektasi. Apakah tempe bisa berhasil? Yang penting saya harus berani mencoba.

Membuat Tempe ala Linda

Bahan:
450 gram kedelai lokal
Air secukupnya
1/3 sdt ragi tempe Raprima


Alat-alat:
Baskom
Panci kukus
Tampah bambu
Sodet kayu
Saringan
Daun pisang batu atau kepok
Sendok stainless steel
Kompor

Cara Membuat:
1. Tampi kedelai untuk menghilangkan kotoran, lalu cuci bersih
2. Rendam dalam baskom, sehari semalam, pisahkan dan buang biji kedelai yang mengapung karena kualitasnya tidak bagus. Ganti air beberapa kali agar hiegenis.
3. Kupas biji kedelai dari kulit arinya. Saya melakukan manual dan butuh waktu lama hehe
4. Cuci kembali biji kedelai yang telah dikupas sampai bersih. Tiriskan.
5. Selanjutnya kukus sampai biji dipencet empuk
6. Tiriskan di tampah bambu dan anginkan sampai dingin di suhu ruang
7. Campurkan dengan ragi dan uleni. Lalu cek dengan tangan, jika terasa lengket berarti kedelai siap dibungkus

Kedelai terasa lengket, siap dibungkus

8. Gunakan sendok untuk mengambil kedelai. Saya mengambil 2 sendok lalu dibungkus. Ukuran tidak sama karena stok daun pisang ternyata kurang
9. Diamkan tempe selama 36 jam atau 48 jam di suhu ruang
10. Tempe buatan sendiri siap diolah


Membungkus tempe

Hasil tempe buatanku

Dari hasil praktik percobaan membuat tempe berhasil. Alhamdulillah senangnya tambah satu life skill lagi. Ternyata menyenangkan membuat tempe sendiri di rumah apalagi ada yang membantu mengupas kulit ari kedelai hehe. Tidak sesulit yang dibayangkan. Ini bahan pangan fermentasi asli Indonesia.

Jadilah pribadi yang bangga dengan bahan pangan lokal. Siapa bilang tempe tak disukai karena keberadaanya ternyata sudah mendunia. Semangat membuat tempe sendiri. Saya bisa, Anda tentu bisa.

Wassalamualaikum

Referensi:

Pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan komentar yang baik dan sopan, agar saya bisa mengunjungi balik blog anda.

Menjahit dan Manfaatnya

  Assalamualaikum , Halo semua apa kabar? Lama ya tak bersua. Semoga semua sehat dan baik. Masa prihatin belum terlewati. Zona masih terus b...

Popular Posts