Sabtu, 24 Agustus 2019

Mencatat Sejarah, Mengabarkan Pada Dunia Tentang Konferensi Ibu Profesional



Mendengar kata konferensi seakan ingatan ini kembali diajak menelusuri jejak sejarah perjuangan Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Indonesia pernah menempuh jalan diplomasi melalui Konferensi Meja Bundar yang dilaksanakan di Den Haag. Perlahan pergerakan melawan penjajah pun dilakukan perempuan Indonesia dengan segala keunikan dan tantangan yang berbeda.


Sebutlah Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, Kartini, Malahayati yang dengan gagah berani memimpin perlawanan terhadap penjajah. Bahkan jejak pahlawan perempuan Indonesia akhirnya terus menginspirasi dengan indah dalam catatan tinta emas sejarah bangsa. Lalu apakah tahun ini ada konferensi juga? Ya, tentu saja. Tahun ini menjadi istimewa karena ada momen spesial dengan adanya Konferensi Ibu Profesional.

Konferensi Ibu Profesional kali ini memilih Yogyakarta sebagai tonggak sejarah dan  bertempat di Sahid Jaya Hotel dari tanggal 16-18 Agustus 2019. Selama 3 hari 2 malam, di sanalah para ibu juga calon ibu berkumpul bersama dalam satu rasa untuk menjadi bagian dalam catatan sejarah, mengabarkan pada seluruh dunia tentang makna Konferensi Ibu Profesional.

Member yang berasal dari 54 kota dan 10 negara bersatu dengan mengusung semangat Sinergy for Change. Di Konferensi Ibu Profesional ini saya kembali bertemu, melihat, merasakan, bahkan bisa saling berpelukan setelah sebelumnya hanya mengenal melalui dunia online. Mengharukan juga membanggakan. Betapa perempuan Indonesia terus berusaha mengupgrade diri dalam menjalani perannya sebagai pribadi, istri, dan ibu.

Setelah melakukan registrasi dengan barcode, panitia memberikan goodie bag yang istimewa berupa tas dari kain goni, id card, juga mainan tradisional. Wow lucu dan unik, saya suka. Dan saat mainan dari bambu saya putar bunyinya klotok-klotok hehe.

Acara kemudian dipandu oleh MC Ikhe Pratiwi, yang penuh semangat menularkan energi positif di setiap sudut ruang yang agak dingin. Tiba-tiba peserta bertepuk tangan meriah, saya yang duduk lesehan pun ikut bertepuk tangan. Serombongan bocah dengan make up tebal menari dengan luwes. Lalu dilanjutkan untaian sambutan penuh makna dari Utami Sadikin ketua panitia Konferensi Ibu Profesional. Kemudian semua peserta berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dan pembukaan resmi ditandai dengan pemukulan gong oleh Founder Institut Ibu Profesional Septi Peni Wulandani.
Sumber instagram
Konferensi Ibu Profesional

Saya merasakan semangat yang luar biasa di dalam ruangan dengan desain unik bernuansa etnik khas Yogyakarta. Lalu saya juga peserta lain dibuat ternganga dengan hadirnya sosok perempuan berpenampilan nyentrik dengan dandanan make up tebal. Dia adalah Inem Yogya atau Made Dyah Agustina seorang perempuan berpendidikan S2 dari ISI Yogyakarta.

Inem menceritakan bahwa dulu berprofesi sebagai seorang Dosen di sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Rutinitas di ranah publik yang dijalaninya ternyata mengusik sisi hati kecilnya untuk kembali ke rumah. Dan memilih menjadi ibu yang dekat dengan ananda, juga seorang Inem dengan rasa seni untuk bergerak menebar manfaat pada orang lain. Antara lain berbagi nasi bungkus yang dibawa menggunakan tas kesayangannya. Acara semakin meriah saat sesi menari bersama. Olala, saya dengar peserta sambil terkekeh ikut menari dengan selendang mengikuti arahan Inem. Ah, Mbak Inem terima kasih sudah membahagiakan semua melalui tari.

Acara dilanjutkan dengan presentasi dari seorang perempuan pembaharu, Sumitra Pasuphaty dari Ashoka Foundation. Dan merupakan volunteer pertama untuk Ashoka Malaysia yang berbagi cerita inspirasi bahwa setiap individu memiliki potensi. Lalu peserta diminta mengingat kapan pertama kali berbuat baik pada diri sendiri? Waduh, kapan ya? Saya menjawab saat saya belajar memasak yang enak sebagai bentuk penghargaan pada diri sendiri dan tentu setiap peserta memiliki jawaban berbeda. Sah-sah saja. Hari pertama dengan pakaian bernuansa etnik.

Bersama teman
berbagai regional

Kemudian suasana sedikit hening dan semua fokus ke depan. Saat datang sesosok perempuan dengan anggun namun berwibawa naik ke atas panggung. Septi Peni Wulandani sebagai founder Institut Ibu Profesional. Menjadi seorang ibu bukanlah hal yang mudah, tidak ada sekolahnya tapi dituntut untuk dapat melahirkan generasi yang hebat. Maka langkah terbaik adalah mulailah bergerak dari diri sendiri, dari rumah, dan dari hal kecil yang sederhana. Saya selalu kagum dengan sosok beliau yang begitu santun, rendah hati, tapi terus menyalurkan energi dan motivasi. Peradaban dimulai dari rumah, dan kuncinya adalah ibu.

Hari kedua tak kalah menarik dan penuh inspirasi. Para member terpilih dengan beragam tema begitu menyedot perhatian saya. Ya, mereka adalah para ibu yang memulai dari rumah namun konsisten untuk terus bergerak menebar manfaat.

Bersama saudara ideologis
Foto by Ipers

Bincang Bernas
Bincang bernas yang pertama menampilkan Efi Femiliyah dari IP Jakarta yang fokus menggaungkan gerakan hijrah nol sampah. Dimulai dari hobinya bertanam sayuran di halaman, mengajak tetangga mengolah sisa organik plastik menjadi souvenir  sampai mendirikan bank sampah membuatnya makin menemukan misi hidupnya. Bahkan impian memiliki kebun pepaya organik pun terwujud nyata.

Bincang bernas kedua, ada Tim Klik IP Semarang yang mengkampanyekan anti bullying. Bullying terkadang tidak disadari mengganggu. Tim Klik bergerak ke sekolah-sekolah untuk berkampanye mengajak siswa tidak melakukan bullying.

Bincang bernas selanjutnya dari Mata Aksara Pak Adi dengan menggaungkan gerakan literasi, meningkatkan minat baca sampai mendirikan rumah baca.

Cahaya Saujana
Cahaya saujana pertama menghadirkan seorang perempuan yang memulai pergerakan melalui UMKM berbasis sedekah jariyah. Puspaningdyah Fc dari IP Lampung.

Cahaya Saujana kedua makin menghipnotis seluruh peserta dengan hadirnya sosok Noor Lisnani owner Pamela Swalayan yang memulai usahanya dari sebuah toko kecil. Dengan sinergi bersama suami serta menyeimbangkan peran sebagai perempuan, istri, juga ibu, Noor Lisnani mampu membesarkan Pamela Swalayan hingga 9 tempat. Pesan Bu Noor adalah saat di luar kita boleh menjadi siapa saja, tapi saat di rumah, kembali kita posisikan diri sebagai istri dan ibu.

Cahaya saujana ketiga pun tak kalah seru dan membuat penasaran. Elsy Junilia Hidayat dari IP Yogyakarta. Mengangkat tema Pentingnya Divisi Konseling Berperspektif Gender. Wah, memang ada apa dengan perempuan? Mbak Elsy memaparkan presentasi berbasis penelitian bahwa kesehatan mental patut menjadi perhatian. Dari ribuan member yang hadir di Konferensi Ibu Profesional berasal dari latar belakang berbeda. Tak menutup mata, bahkan saya entah sudah ditentukan oleh Allah atau bagaimana saat duduk di ruangan konferensi bertemu dengan sesama pejuang garis dua. Lalu dari gestur, tatap mata, pelukan kemudian saling sharing. Maka kami membiarkan air mata ini mengalir mencari jalannya. Tak perlu ditahan. Saya merasa betapa setiap perempuan memiliki benteng pertahanan berbeda dalam mengelola emosi, gejolak hati atau pun pola pikir. Semua butuh penyaluran. Semoga dengan dengan adanya presentasi yang menitikberatkan pada kesehatan mental, akan menjadi jalan bagi Komunitas Ibu Profesional untuk menciptakan ruang nyaman, preventif dari hal yang berhubungan dengan kesehatan mental.

Tangan Terampil
Acara selanjutnya adalah tentang pembuatan eco enzyme yang digawangi Uswatun Hasanah. Dengan sebuah meja Mbak Uswatun.Hasanah memberikan tutorial cara membuat eco enzyme. Yaitu air, gula, kulit buah atau sisa sayuran dengan perbandingan 10:1:3. Eco enzyme memiliki banyak.manfaat dan ramah lingkungan. Eco enzyme dipanen saat sudah terfermentasi selama 3 bulan.

ChangeMaker
Sesi changemaker pertama menghadirkan dewan pengurus masjid Jogokariyan yang penuh inspiratif. Masjid Jogokariyan bermetamorfosa menjadi pusat agama, pendidikan, budaya, sosial dan kesehatan. Dalam operasional sehari-hari diatur dengan manajemen yang patut dicontoh. Kemudian saldo kas dibuat nol semua disalurkan untuk kepentingan umat. Dalam memetakan penduduk sekitar masjid sampai memiliki data akurat dan update.

Kemudian dilanjutkan dengan pemilihan Changemaker  Family, yang akhirnya memilih Mbak Ika Pratidina, Mbak Resyy Laila Untari Ningsih, dan Mbak Hilda Lu'lu'in yang dengan konsisten juga semangat menebar manfaat dimulai dari rumah dan merekah keluar rumah.

Lalu kembali pada sesi tangan terampil. Kali ini Mbk Restu Anjarwati yang memaparkan desain.menu belajar berdasarkan STPPA. Acara kembali seru saat peserta diminta membuat contoh menu belajar dengan detil. Apalagi saat sesi tanya jawab, wah sampai berebut angkat tangan hehe.

Kemudian setelah Mbak Restu, ada Mbak Puri Fitriani yang menghadirkan tema agar peserta bisa berpikir kritis melalui pertanyaan. Yaitu,ask to solve. Bertanya menjadi bagian dalam proses berpikir yang bertumpu pada kemampuan berpikir dan menelaah setiap objek yang dilihat. Berpikir mendorong kemampuan kognitif meningkat juga membuat anak makin luas dan bebas bertanya tanpa rasa takut. Walau saya datang sebagai peserta, namun hadir di Konferensi Ibu Profesional benar-benar menjadi momen berharga untuk menimba ilmu langsung dari para maestronya. Luar biasa dan rasa bangga bercampur haru membuncah jadi satu.

Lalu selesai makan.malam, acara dilanjutkan dengan narasumber yang kebapakan. Yaitu Dodik Maryanto. Pak Dodik memberikan tema perempuan berdaya. Inti dari perubahan adalah mulai berani untuk bermimpi dan mewujudkannya. Dream it, do it, share it, dan growth it. Masyaa Allah, semakin bersemangat untuk terus bergerak menjadi agen perubahan untuk sekitar.

Sumber foto instagram
Konferensi Ibu Profesional

Sesi malam berakhir dengan semangat penuh menelusup ke dalam dada. Bahwa menjadi perempuan berdaya akan merubah sisi dunia menjadi berbeda. Berbeda dalam persepsi, berbeda dalam semangat pembaharu.
Everyone a changemaker.

Keesokan harinya seluruh peserta dikejutkan dengan hadirnya Ibu Tri Mumpuni Wiyatno perempuan kelahiran Semarang. Yang fokus pada pembangkit listrik tenaga mikro hidro di lebih dari 60 lokasi yang terpencil di Indonesia. Begitu banyak tantangan beliau bersama pasangan bahkan sampai pernah disandera dan dimintai tebusan. Merinding dan haru mendengar penuturan beliau. Rasa cinta tanah air yang tinggi membuat beliau menerjang tantangan dengan penuh keyakinan. Bahwa jika hal baik, maka akan berakhir baik.

Kemudian acara semakin syahdu dengan  pembacaan puisi yang dibawakan oleh Bu Septi dengan penuh keindahan. Puisi kerendahan hati karya Taufik Ismail. Satu hal yang saya ingat adalah kalimat bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
Dan Konferensi Ibu Profesional dideklarasikan menjadi sebuah agenda 2 tahun sekali dan menjadi wadah bagi perempuan Indonesia menjadi bagian dari changemaker family. Dan tandatangan bersama seluruh peserta Konferensi Ibu Profesional.

Foto by Monike

Bersiap mengusung tema 2020 Semesta Berkarya. Terus bersinarlah seluruh perempuan Indonesia dan jadilah kebanggaan keluarga.

Sumber Referensi

Materi Konferensi Ibu Profesional, 16-18 Agustus 2019, Yogyakarta

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Konferensi_Meja_Bundar

Instagram Konferensi Ibu Profesional






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan komentar yang baik dan sopan, agar saya bisa mengunjungi balik blog anda.

Mencatat Sejarah, Mengabarkan Pada Dunia Tentang Konferensi Ibu Profesional

Mendengar kata konferensi seakan ingatan ini kembali diajak menelusuri jejak sejarah perjuangan Indonesia dalam merebut kemerdekaan. In...

Popular Posts