Senin, 21 Januari 2019

Wujudkan Hidup Minim Sampah dengan Cegah, Pilah, dan Olah



Siang itu saya membaca sebuah artikel dari surat kabar online. Isinya menyatakan bahwa "Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebut Bandar Lampung dan Manado sebagai kota terkotor untuk kategori kota besar. " Saya termangu sejenak, dan memaknai kalimat tersebut sebagai alarm bahwa Bandar Lampung sudah masuk darurat soal sampah.

Cerita berlanjut, " kota-kota terkotor mendapat nilai jelek karena membuang sampah secara terbuka serta ada yang belum membuat kebijakan dan strategi nasional (Jakstranas) tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. Juga komitmen yang kurang, anggaran kurang, serta partisipasi publik yang kurang," dikutip dari duajurai.co.

Memang permasalahan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir ( TPA), atau pun yang mencemari lingkungan sekitar bukan tanggung jawab satu pihak saja,melainkan tanggung jawab bersama. Terutama rumah tangga yang selalu menghasilkan sampah organik sisa konsumsi. Menurut Dirjen Pengelolaan Sampah dan B3 KLHK Tuti Hendrawati Mintarsih, " Sampah di Indonesia komposisi utamanya 60 persen organik, plastiknya 14 persen."

Dok. Pribadi
Foto wilayah sungai Pasir Gintung

Dan berdasarkan data Jambeck tahun 2015, Indonesia menempati urutan kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut dengan jumlah mencapai 187,2 juta ton. Jadi saat ini sampah plastik sudah akut mencemari laut. Sampah plastik tersebut 80 persen berasal dari darat.

Permasalahan sampah akan semakin sulit dikontrol jika masyarakat tidak mau merubah sudut pandang terkait sampah yang dihasilkan. Masalah pemilahan terhadap sampah yang masuk kategori organik dan non organik sangat penting dilàkukan. Terutama di lini pertama, yaitu mengelola sampah sejak dari rumah. Butuh kesadaran tinggi dimulai dari diri sendiri dan menularkan kepada lingkungan sekitar.

Sebagai seorang ibu yang bekerja di ranah domestik, tentu saja saya setiap hari bersinggungan dengan sampah organik dan non organik ( dalam hal ini kresek) sebagai akibat adanya kegiatan konsumsi. Namun saya terdorong untuk mulai bergerak mewujudkan hidup minim sampah atau mulai ber zero waste.  Cara yang dilakukan tentu  harus setahap demi setahap dengan menggunakan  rumus 3AH. Yaitu mulai dari Cegah, Pilah, dan Olah.


Seperti yang dikemukakan oleh DK Wardhani penulis buku Menuju Rumah Minim Sampah bahwa tujuan dari memilah adalah untuk diolah. Maka biasakan sejak di rumah untuk mulai menerapkan Cegah, Pilah, dan Olah.

Menurut saya ini butuh niat kuat dan sebaiknya dilakukan berulang sehingga akhirnya akan menjadi good habit dan bertransformasi menjadi deep habit. 

Berikut hal-hal yang saya terapkan di rumah untuk ikut mewujudkan hidup minim sampah dari rumah.

1. Cegah

Cegah dalam hal ini bermakna luas. Salah satu cara mencegah agar barang yang berpotensi menjadi sampah tidak mudah masuk ke rumah adalah harus berani berkata tidak atau tolak. Dan mencari substitusi barang sejenis yang lebih ramah lingkungan.

* Kresek

Biasakan saat berbelanja membawa kantong belanja atau wadah sendiri. Sehingga keberadaan kresek di rumah tidak terus bertambah. Hal ini sudah saya terapkan saat berbelanja ke pasar tradisional. Beli bakso, ikan memakai wadah khusus. Membeli buah, cabai, bawang merah dengan pouch terbuat dari kain jilbab lawas yang dijahit model serut. Sungguh langkah kecil ini sangat membantu mengurangi kresek agar tidak bertambah di rumah.

Berbelanja dengan tas kain dan pouch dari jilbab lawas

Mengapa kresek perlu ditolak? Ya, karena permasalahan sampah plastik ternyata menimbulkan dampak yang berantai. Tak hanya mencemari laut, tapi juga menyakiti hewan-hewan yang hidup di dalamnya. Jangan sampai makin banyak penyu, atau paus yang mati dan ditemukan di pencernaannya banyak sampah plastik tertelan karena dikira makanan.

* Sedotan dan Botol sekali pakai

Usahakan saat membeli minum tidak memakai sedotan plastik. Atau ganti sedotan plastik dengan sedotan dari bambu dan stanless steel. Misal saat beli es tebu untuk dibawa pulang bawa wadah sendiri berupa botol yang dapat dipakai berulang kali. Sehingga di rumah tidak menambah koleksi sedotan plastik dan botol plastik sekali pakai.

Bawa botol minum saat bepergian

Saat bepergian biasakan membawa botol minum sendiri yang lebih ramah lingkungan.

*Bawa wadah makan sendiri

Dapat diterapkan saat pergi atau membeli makan di luar, tinggal masukkan ke wadah yang dibawa. Sedikit repot, tapi terbukti meminimalkan bungkus makanan yang berpotensi menjadi sampah. Seperti dulu waktu saya kecil, sering ditugaskan membeli soto dengan membawa rantang sendiri. Rasanya model itu layak diterapkan lagi untuk saat ini. Atau saat ingin membeli kue di pasar, bawa wadah sendiri.

*Ganti tisu dengan kain

Sudah satu bulan lebih saya tidak membeli tisu. Tapi disubstitusikan dengan kain yang berasal dari jilbab lawas. Kain tersebut digunting rapi dengan ukuran yang sama dan dimasukkan ke kotak tisu. Dari sebuah jilbab lawas, diperoleh 16 tisu kain. Kalau tisu kain kotor, tinggal dicuci dan dimasukkan kembali ke kotak.
Atau juga mengganti tisu untuk mengelap keringat dengan sapu tangan yang lebih ramah lingkungan.

Tisunya diganti kain

*Alat pembersih

Gunakan alat pembersih seperti sapu yang berasal dari bahan ramah lingkungan. Seperti sapu dari sabut kelapa. Sabut kelapa juga bisa dijadikan pengganti spons sintetis yang tentu tidak ramah lingkungan. Harga alat pembersih dari sabut kelapa lebih murah namun dapat terurai secara alami saat sudah rusak.

Sapu sabut kelapa

*Membuat Camilan Sendiri


Ini saya lakukan sebagai salah satu cara mengurangi bertambahnya potensi sampah yang berasal  dari kemasan makanan. Misal membuat jamur krispi, nugget pisang, puding sendiri atau membuat es krim sendiri.  Selain lebih sehat sudah pasti juga hemat.

*Memasak makanan sendiri

Memasak sendiri sebaiknya sesuai kebutuhan. Tujuannya adalah agar tidak mubazir atau berlebihan dengan makanan yang hanya berujung di pembuangan. Gunakan model belanja terencana, mengatur menu dengan cermat dan memasak terencana. Memasak sendiri memiliki banyak keuntungan, dapat sehatnya, halal, bersih, dan ekonomis.

2. Pilah

Mulai memilah dan memisahkan sampah organik dan non organik. Buat dengan sederhana untuk wadah sampah organik. Sampah organik bisa dikomposkan. Lalu untuk kardus, kertas, koran, botol plastik, bisa diberikan pada mamang rongsok.

Pilah sesuai jenis

Begitu pun bekas-bekas paku, peniti, isi straples sebaiknya juga dipisah tersendiri. Untuk sisa hewani setelah dipisahkan tulang dan durinya dapat diberikan pada hewan di sekitar kita. Lalu pakaian layak pakai dapat didonasikan dan disalurkan bagi yang membutuhkan. Jika di Institut Ibu Profesional Lampung, dapat didonasikan melalui Divisi Sejuta Cinta.

3. Olah

Olah bahan sisa yang berasal dari rumah kita. Dalam hal ini saya mengolah sampah organik menjadi kompos melalui metode Takakura. Metode Takakura ini mudah, praktis, dan tidak membutuhkan biaya besar.

Untuk sampah plastik yang sudah telanjur masuk ke rumah, dimasukkan dan dibuat ecobrick. Ecobrick adalah balok bangunan pakai ulang yang dibuat dengan mengemas plastik bersih dan kering ke dalam botol plastik hingga mencapai kerapatan tertentu.

Ecobrick pertamaku

Ecobrick dikenalkan oleh Russell Maier pria asal Kanada sebagai wujud tanggung jawab dan kepedulian untuk bijak mengelola sampah plastik. Karena kalau dibuang melalui petugas kebersihan hanya akan berpindah tempat saja dan menggunung di Tempat Pembuahan Akhir ( TPA). Dan saat dibakar justru menimbulkan pencemaran dan berbahaya bagi kesehatan.

Lalu untuk kulit buah seperti nanas atau jeruk dibuat cairan pembersih. Atau masuk Takakura. Sisa organik dari kulit telur dapat dicuci, dijemur dan digerus halus untuk pupuk tanaman.
Untuk sisa sayuran yang ada akarnya, bisa ditanam kembali.

Regrow

Mencoba menjalani hidup minim sampah bukan hal yang mudah. Butuh komitmen dan konsistensi yang tinggi. Menerapkan hidup lebih ramah lingkungan pun tak bisa dilakukan sendiri. Butuh dukungan dan sinergi dengan berbagai pihak. Baik keluarga, tetangga, komunitas, sekolah, pemerintah, dan semua orang yang berkepentingan untuk menjaga bumi tetap hijau.

Mari mulai bergerak untuk mencegah, memilah, dan mengolah sampah yang kita hasilkan. Agar bumi tetap lestari untuk anak cucu kita nanti. Salam hijau.

Referensi

http://duajurai.co/2019/01/14/penilaian-adipura-klhk-sebut-bandar-lampung-kota-terkotor/

https://www.google.com/amp/s/amp.tirto.id/mengintip-kota-kota-gudang-sampah-di-indonesia-cE4o

http://minimsampah.com/cegah-pilah-dan-olah-3-ah/

https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20160222182308-277-112685/indonesia-penyumbang-sampah-plastik-terbesar-ke-dua-dunia

https://www.ecobricks.org/?lang=id

Portofolio pribadi



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan komentar yang baik dan sopan, agar saya bisa mengunjungi balik blog anda.

Ombus-ombus Nan Legit

Ombus-ombus  Assalamualaikum , Siapa yang mau ngemil? Saya....tapi yang simpel dan enak eh..Nah karena keinginan ngemil tapi yang n...

Popular Posts