Senin, 21 Mei 2018

Cabai Rawit Pedasnya Menggigit




Dok. Linda

Assalamualaikum,

Memasuki hari kelima bulan Ramadhan, harga kebutuhan pokok terus saja merangkak naik. Hampir semua lapisan masyarakat merasakan dampaknya, terutama bagi penjual masakan matang, wow harus lebih pandai mensiasati dengan  melambungnya harga kebutuhan pangan.


Lalu apa hubungannya dengan rencana proyek yang ingin saya laksanakan? Tentu saja ada, coba bayangkan apa yang teman - teman ingat pertama saat memikirkan kata sambal? Tentu saja terbayang tanaman bumbu dapur yang bernama cabai hehe...karena tidak mungkin sambal dibuat tanpa cabai.

Nah, kali ini, saya ingin mengulas tentang si cabai rawit merah yang pedasnya menggigit tapi banyak dicari orang. Cabai rawit ini akan menjadi salah satu bahan pendukung produk yang ingin saya buat. Walau nanti akan ada juga ulasan tentang cabai merah besar tersendiri.

Tak kenal, maka tak sayang, mari yuk cari tahu tentang si cabai rawit merah ini.

Menurut wikipedia

Cabai rawit atau cabai khatur, adalah buah dan tumbuhan anggota genus Capsicum. Selain di Indonesia, ia juga tumbuh dan populer sebagai bumbu masakan di negara - negara Asia Tenggara lainnya. Di Malaysia dan Singapura ia dinamakn cili padi, di Filipina silling labuyo, dan di Thailand phrik khi nu. 
Di Kerala, India, terdapat masakan tradisional yang menggunakan cabai rawit dan dinamakan kanthari mulagu. Dalam bahas Inggris dinamakan Thai pepper atau bird's eye chili pepper.

Buah cabai berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi merah saat matang. Walaupun ukurannya kecil, tapi cabai rawit dianggap cukup pedas dan mencapai 50.000 - 100.000 pada skala Scoville.

Cabai rawit merah, banyak diperjualbelikan di pasar tradisional bersama jenis cabai yang lain. Termasuk di pasar tradisional dekat rumah. Berdasarkan pengamatan saya, si cabai rawit merah ini meningkat juga harganya.

Jika di hari biasa 100 gram cabai rawit merah bisa dibeli dengan harga Rp 3000,- sekarang menjadi Rp 5.000 sampai Rp 6.000,- per 100 gram. Berarti untuk 1 kg cabai rawit merah garga mencapai Rp 60.000,-. Dan masih diperkirakan naik lagi saat mendekati hari raya.

Emm, berarti nanti saat harga stabil, saya harus bergerilya untuk survey mencari harga yang sesuai dengan kualitas cabai rawit yang bagus. Karena untuk menghasilkan cita rasa sambal yang lezat, tentu bahan baku yang segar dan bersih menjadi persyaratan utama.

Tapi memang ya, harga cabai merah pedas, sepedas rasanya hehe. Yang penting harus cermat dan tidak mudah menyerah untuk mendapatkan suplay cabai rawit dengan harga terbaik. Linda..harus semangat.

Demikian ulasan tentang si cabai rawit yang harganya masih menggigit, semoga harga di pasar kembali normal dan terjangkau bagi semua kalangan. Sehingga saat membuat sambal hati menjadi tenang dan nyaman. Doakan terus, agar proyek saya berjalan lancar aamiin.

Wassalamualaikum

Sumber : www.wikipedia.id

#Linda Dwihapsari, kelompok 35
#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan komentar yang baik dan sopan, agar saya bisa mengunjungi balik blog anda.

Kreatif Menjadikan Hidup Lebih Berwarna

Assalamualaikum , Tak terasa bulan Desember sudah hampir setengah perjalanan dilalui. Coba kita pikirkan, hal apa saja yang terlaksana ...

Popular Posts