Selasa, 22 Mei 2018

Butir - butir Kristal itu adalah Gula Pasir





Assalamualaikum,

Hai teman apa kabar hari ini? Semoga puasa berjalan lsncar ya aamiin. Di Lampung sejak semalam turun hujan yang sangat deras seperti ditumpahkan dari langit, Allahu Akbar.  Berlanjut sampai Subuh, untungnya drainase lancar sehingga tetap aman. Hujan adalah rahmat, tumbuhan tampak berseri menghijau ceria. Sampai paksu mau berangkat kerja hujan masih lumayan deras.


Hari ini masuk proyek lanjutan survey harga bahan baku. Kali ini saya mau menuliskan tentang gula pasir. Gula pasir menjadi komponen penting dalam pembuatan sambal, karena memiliki fungsi sebagai penambah cita rasa umami, juga sekaligus sebagai pengawet alami. Jadi gula pasir bukan hanya untuk bahan pemanis pada minuman.

Gula pasir ada yang berwarna putih ada yang agak kuning, di Indonesia biasanya terbuat dari pohon tebu.  Yuk kita cari sumber informasi yang akurat tentang gula pasir.

Menurut Wikipedia,

Gula adalah suatu karbohidrat sederhana yang menjadi sumber energi dan komoditi perdagangan utama. Gula digunakan untyk mengubah rasa menjadi manis dan keadaan makanan atau minuman.


Sejarah Industri Gula di Indonesia

Gula pasir berasal dari pohon tebu, tebu adalah tumbuhan asli dari nusantara terutama di bagian timur. Ketika Belanda mulai membuka koloni di Pulau Jawa, kebun - kebun tebu monokultur mulai dibuka tuan - tuan tanah pada abad ke - 17. Pertama di sekitar Batavia lalu berkembang ke arah timur.

Puncak gemilang perkebunan tebu dicapai pada tahun awal 1930an, dengan 179 pabrik pengolahan dan produksi tiga juta ton gula per tahun. Wow fantastis sekali.

Namun secara perlahan jumlah pabrik mengalami penurunan. Macetnya riset pergulaan membuat pabrik - pabrik di Pulau Jawa tertinggal teknologi seperti Gondang Jaya di Klaten, atau Pabrik Gula Madukismo , Yogyakarta. Ditambah pabrik tidak memiliki lahan sendiri untuk budidaya tebu, maka makin sulit untuk beroperasi karena minimnya bahan baku.

Walau masih bisa beroperasi, dengan saling bekerjasama dengan petani yang lahannya disewa, tetap saja jumlah produksi pabrik gula tak seperti dulu. Ditambah  bahan baku harus diangkut jauh menuju pabrik menyulitkan untuk menuju swasembada gula.

Berbeda dengan pabrik gula yang ada di Lampung. Yang saya tahu ada 2 perusahaan yang konsen mengolah gula tebu seperti PT Gunung Madu dan PT Sugar Grup Company. Keduanya mencukupi kebutuhan gula pulau Sumatera, bahkan sampai ke Jawa ( misal gulaku). Perusahaan memiliki lahan tebu ribuan hektar dan dekat dengan lokasi pabrik, sehingga produksi dapat berlangsung secara terencana dan efisien.

Nah yang jadi pertanyaan, apa gula juga ikut merangkak naik sata bulan ramadhan? Oh ternyata ikut naik juga, walau tidak signifikan. Jika harga per kg untuk hari biasa Rp 12.500,- saat ramadhan naik menjadi Rp Rp 14.000 per kg. Tapi untuk proyek tidak terlalu banyak membutuhkan gula.

Ditunggu saat harga biasa, untuk uji coba membuat produk sambal. Jadi memang jika berdasarkan survey beberapa wajtu dapat disimpulkan bahwa memang harga bahan poko, sayuran, bumbu, telur, daging, dan gula semua mengalami kenaikan.

Tapi dari survey sederhana ini, saya jadi bertambah wawasan tentang banyak hal. Belajar banyak, dan menjadi lebih bersyukur, bahwa diantara kenaikan harga dan kebutuhan yang banyak, masyarakat sekitar masih tetap damai tentram.

Hanya memang sebagai manajer rumah tangga saya dituntut untuk cerdas mensiasati dengan mengurangi belanja yang sifatnya mubazir. Membeli berdasarkan kebutuhan dan prioritas, bukan membeli karena keinginan. Dan untuk urusan perut, saya memilih memasak sendiri, lebih hemat dan bersih juga halal thoyib untuk hidangan keluarga.

Demikian progres laporan kegiatan untuk proyek kedua di Ruang Berkarya Ibu. Tentang gula pasir. Setiap langkah kecil kita, akan menentukan langkah selanjutnya. Kesungguhan dan kerja keras menjadi penghiasnya, sambil terus berdoa agar Allah senantiasa meridhoi langkah saya untuk memiliki usaha dengan bahan lokal. Semoga LINDA FOOD dapat terealisasi menjadi nyata aamiin.


Wassalamualaikum

Sumber :
www.wikipedia.id
Survey Slumuth Family di Pasar Perumnas Way Halim


#Linda Dwihapsari, kelompok 35
#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day12

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan komentar yang baik dan sopan, agar saya bisa mengunjungi balik blog anda.

Belajar Memanah

Assalamualaikum , Halo teman semua apa kabar? Semoga senantiasa sehat dan bahagia. Adakah cara yang paling mudah untuk merasa ...

Popular Posts