Jumat, 08 Desember 2017

Seni Menjadi Seorang Fasilitator



Sudah menjadi kewajaran bagi setiap individu apabila diberi penawaran hal baru merasa penasaran juga berdebar – debar. Begitu pun dengan yang namanya proses belajar. Harus berani keluar dari zona nyaman untuk melompat dan mengambil peluang sebagai salah satu usaha untuk terus meningkatkan kapasitas diri sebagai, perempuan, istri, dan ibu.


Maka menjadi seorang fasilitator adalah sebuah amanah yang harus benar – benar dipahami maksud dan tujuannya. Karena menjadi seorang fasilitator bukanlah hal yang mudah. Menjadi seorang fasilitator berarti  mendampingi sebuah proses belajar yang lengkap dengan bermacam tantangan juga seni yang semuanya tidak dapat diprediksi. Saat bertemu dengan kelas yang pesertanya aktif, itu menyenangkan. Sebaliknya saat bertemu dengan kelas yang sunyi itu suatu hal yang menuntut  fasilitator untuk fleksibel mengganti perencanaan A dengan perencanaan B. Semua butuh persiapan yang matang dan ada ilmunya. Sehingga saat mendampingi kelas matrikulasi, fasilitator dan peserta dapat saling bekerjasama dengan baik dan menyenangkan, karena memang belajar sudah menjadi kebutuhan yang ingin dipenuhi. Bukan sebuah paksaan.
Fasilitator adalah seseorang yang membantu sekelompok orang memahami tujuan bersama mereka dan membantu membuat rencana mereka guna mencapai tujuan tersebut tanpa mengambil posisi tertentu1.
Seorang fasilitator yang baik dituntut untuk memiliki ketrampilan dalam memimpin sebuah pertemuan termasuk juga ketepatan waktu, mengikuti agenda yang sudah disepakati, merangkum pembicaraan, menengahi pertentangan. Selain itu seorang fasilitator juga harus memiliki ketrampilan untuk mendengarkan termasuk kemampuan untuk menghentikan pembicaraan yang sudah menyimpang, serta memastikan semua orang berpartisipasi1.

A.      Pemahaman akan fungsi Fasilitasi
Seorang fasilitator juga harus memahami fungsinya untuk dapat memfasilitasi peserta yang belajar agar mendapatkan pengalaman belajar yang mengesankan.
Fasilitasi adalah seni dan ilmu untuk memaksimalkan saat belajar dengan bekerja bersama peserta, melompat masuk ke dalam kepala dan hati mereka untuk membuka dan menjelajahi cara mereka menyajikan dan memahami apa yang mereka pelajari. Fasilitasi adalah bagian yang membawa fasilitator melampaui penyebaran informasi menuju penciptaan ilmu pengetahuan dan pembentukkan kehidupan2.
B.      Kesiapan Diri
Sebelum melangkah lebih jauh untuk menjadi seorang fasilitator maka kesiapan diri sangat memegang peranan penting. Diantaranya adalah :
1.     Niat karena Allah
Manakala kita melakukan suatu pekerjaan diniatkan karena Allah, itu akan mendorong rasa ikhlas karena semata – mata hanya ingin berbagi dan menambah manfaat yang semoga dapat menjadi tabungan amal kebaikan dunia dan akhirat. Niat yang tulus dan ikhlas akan memberikan energi  kebaikan pula.

2.     Mengantongi Izin Resmi dari Suami
Menjadi seorang fasilitator tentu kita akan disibukkan dengan amanah baru. Maka izin suami sebagai bentuk dukungan dan motivasi sangat penting. Sehingga saat melangkah rasanya menjadi ringan karena diridhoi suami.

3.     Manajemen Diri
Harus dapat membagi perhatian untuk kepentingan keluarga dan komunitas. Beraktivitas di dalam dan di luar seimbang. Tidak boleh mengorbankan salah satu pihak.

4.       Manajemen Empati
Karena dalam proses belajar kita belum pernah mengenal, maka melatih empati sangatlah penting.  Ciptakan hubungan yang harmonis di kelas. Bersikap ramah, penuh kehangatan, mengayomi, melindungi, menghargai, menghormati, perhatian, penuh semangat, mau mendengarkan, tanggap jika ada permasalahan, membantu, mengapresiasi, bersikap jujur, mendampingi sebagai teman, dan menjalin kedekatan secara emosional dengan tulus dengan semangat ingin berbagi.

5.     Manajemen Gadget
Kita harus dapat mengatur waktu penggunaan gadget, sehingga aktivitas di rumah selesai dan amanah komunitas juga tidak terganggu.

6.     Banyak Membaca dan Bertanya
Dengan banyak membaca kita akan lebih mudah dalam memahami dan menguasai materi. Tak lupa juga untuk bertanya kepada teman yang lebih berpengalaman sehingga bisa saling belajar. Karena dengan makin banyak hal yang kita tahu, makin menambah rasa percaya diri untuk dapat mendampingi dalam proses belajar di kelas matrikulasi.

C.      Pandangan Tentang Kedudukan Fasilitator di IIP
Di Institut Ibu Profesional seorang fasilitator memiliki kedudukan yang penting. Karena seorang fasilitator menjadi jembatan bagi peserta untuk menyeberang mempersiapkan diri sebelum belajar di tahapan kelas selanjutnya. Fasilitator yang menjadi penyampai materi, pendamping proses belajar. Seorang fasilitator bukan narasumber yang harus tahu segalanya. Seorang fasilitator memiliki kedudukan :
1.         Menghantarkan peserta untuk memahami materi
2.         Mengasah intelektual curiosity peserta
3.         Mengamati perkembangan pemahaman peserta
4.         Menghantarkan peserta menuju kelas member di kotanya
5.         Menyelesaikan tugas administrasi sebagai arsip untuk pusat

D.      Rencana dan Strategi dalam Memfasilitasi Kelas
Sebagai orang yang akan mendampingi dalam proses belajar, fasilitator perlu membuat perencanaan dan strategi dalam memfasilitasi kelas.
1.        Rencana yang saya gunakan :
a. Lebih mengacu pada penguasaan kelas, sehingga di kelas ada suasana yang menimbulkan motivasi ( mendorong potensi peserta). Kelas menjadi tempat yang menyenangkan. Peserta memahami terhadap aturan yang telah disepakati. Lingkungan kelas yang saling mendukung sehingga ada kedekatan secara emosional diantara peserta. Dan adanya rancangan belajar yang dinamis sehingga mendorong peserta untuk aktif, kreatif dan penuh inovatif dalam belajar.
b.  Mengacu pada ketrampilan penyampaian materi. Penyajian materi yang menarik, fasilitasi yang luwes tidak kaku, meningkatkan rasa ingin tahu peserta sehingga bisa saling berdiskusi untuk menghidupkan suasana kelas.
c.  Memahami peserta belajar dengan lebih banyak mendengar, memberikan teladan, mendorong peningkatan kesadaran, daya dengar, partisipasi, umpan balik dan dapat saling mempercayai.
d.      Memberikan penghargaan dan mengakui setiap usaha yang dilakukan peserta.
2.       Strategi yang digunakan menggunakan
a.      Konstruktivisme, peserta aktif secara mental untuk membangun pengetahuannya yang dilandasi pengetahuan yang dimiliki3.
b.     Inquiry, yaitu pembelajaran yang menekankan pada proses berfikir secara kritis dan analitis. Peserta menemukan sendiri benang merah yang ingin dipelajari dengan kehidupan.
c.   Strategi afektif, afektif berhubungan dengan nilai, sulit diukur tapi menyangkut kesadaran diri peserta untuk lebih menumbuhkan kebiasaan yang baik.
d.   Multiple Strategi, gabungan dari berbagai macam strategi yang digunakan sesuai dengan kondisi kelas.
e.       Brainstrorming, menggali ide dari para peserta belajar matrikulasi

E.      Kekhawatiran Menjadi Fasilitator
Menjalani peran yang baru sudah wajar jika merasa khawatir. Yang penting tidak berlebihan. Kekhawatiran saat menjadi fasilitator misal jika mendapati kelas yang begitu sunyi olala rasanya. Dan khawatir banyak peserta yang saat belajar secara online masih belum terbiasa menyetorkan tugas secara online pula. Dan saya pribadi juga masih tahap belajar untuk tidak gagap terhadap teknologi. Khawatir saat awal belajar kelas ramai, dan mendekati akhir menjadi sepi.

F.        Penilaian akan Proses adaptasi serta keterlibatan diri dalam kelas TfFM
Alhamdulillah dalam kelas TfFM kali ini saya dapat beradaptasi dengan baik. Dapat mengikuti setiap sesi diskusi yang diadakan di jam yang telah disepakati. Jika ada kesempatan juga bertanya sebagai bentuk partisipasi juga keinginan diri untuk menambah pengetahuan. Memberikan evaluasi secara lengkap di semua materi yang diberikan.
Saya juga berusaha aktif terlibat dengan menjadi pemateri pada sesi diskusi Manajemen Dinamika Kelas bersama Mbak Nonie. Ini suatu pengalaman yang mendebarkan dan simulasi langsung saat menjadi pemateri di kelas. Semoga menjadi salah satu bekal saat mengampu kelas pembelajar. Karena memfasilitasi kelas matrikulasi harus bisa menanamkan pondasi yang kuat bahwa menjadi seorang perempuan, istri, dan ibu yang ingin meningkatkan kapasitas diri harus memiliki komitmen dan konsisten tinggi. Belajar serius dan tuntas sampai akhir dengan bahagia.

Nama           : Linda Dwihapsari
Posisi           : Pj Rumah Belajar Memasak
Asal Kota    : IIP Lampung

Sumber:
1id.m.wikipedia.org, pengertian fasilitator, tanggal dilihat 08 Desember 2017.

2Bobbi DePorter, Mark Reardon, Sarah Singer, Nourie,  Quantum Teaching, Penerbit Kaifa, Bandung, 2001

3Munif Chatib, Gurunya Manusia, Penerbit Kaifa, Bandung, 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Silahkan komentar yang baik dan sopan, agar saya bisa mengunjungi balik blog anda.

Kreatif Menjadikan Hidup Lebih Berwarna

Assalamualaikum , Tak terasa bulan Desember sudah hampir setengah perjalanan dilalui. Coba kita pikirkan, hal apa saja yang terlaksana ...

Popular Posts