Selasa, 02 Oktober 2018

Pergaulan Bebas Masa Depan Suram



Assalamualaikum,

Hari ini memasuki review game level 11 tentang fitrah seksualitas. Memasuki hari ke -13. Wah saatnya mencari informasi yang terjadi di sekitar daerah. Rasanya tak sulit mendapatkan info tersebut. Ada koran lokal yang membawa berita mencengangkan.

Hari ini saya merasa sedih sekaligus prihatin, bagaimana tidak? Di koran diungkapkan bahwa PKBI ( perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia ) Lampung, menemukan ada sebuah sekolah menengah pertama  di sebuah kabupaten yang mendapati kasus 12 siswinya hamil. Mereksa masih remaja, siswi kelas VII, VIII, dan IX. Ah..tiba - tiba tangan ini saya tutupkan ke wajah sambil beristighfar.

Fenomena apa ini? Dimanakah peran orang tua sebagai benteng pertahanan anak? Dimanakah keluarga? Bagaimana sekolah memberikan pendidikan terkait fitrah seksualitas yang benar? Dan masih banyak bagimana - bagaimana lain yang mengelilingi kepala saya.

Huff, perlahan saya pun mengatur napas. Dan mulai mencari benang merah dari kasus yang terjadi. Menelusuri dari data dan kenyataan yang ada.

Pada fitrahnya, anak - anak memang seharusnya mendapatkan pendidikan terkait fitrah seksualitas sejak dini dari rumah. Sehingga mendapat informasi yang benar, valid, berikut tentang segala konsekuensinya.

Terlebih untuk anak usia puber 10 - 14 tahun, dimana saat itu masalah hormon mulai berkembang dengan pesat. Seyogyanya anak perempuan mendapat pengetahuan tentang perkembangan organ reproduksinya juga cara menjaganya dengan baik. Adanya sel telur, rahim, juga pengetahuan tentang kehamilan.

Anak perempuan yang dekat dengan ayah dan menjadikan ayah sebagai idola akan memiliki benteng yang kuat dari perilaku penyimpangan yang tak bertanggung jawab. Tidak mudah menyerahkan dirinya pada laki - laki lain. Walau itu pacar sendiri.

Kemudian anak laki - laki, juga diajarkan bahwa sudah menjadi laki - laki yang menghasilkan sel sperma yang bila tak diarahkan dengan baik akan menimbulkan permasalahan. Maka didikan menjadi laki - laki yang bertanggungjawab dan sholeh darurat dilakukan di rumah. Peran ayah ibu menjadi kunci utama.

Lalu bagaimana dengan tontonan mereka? Kebebasan ber gadget bisa juga menjadi pemicu timbulnya pergaulan bebas. Mereka penasaran, coba - coba, dan timbul permasalahan. Maka ketika edukasi kurang, dan masyarakat juga cenderung melakukan pembiaran. Hal ini akan terus terjadi dan jumlahnya meningkat.

Kejadian ini tentu merugikan bagi remaja putri, juga orang tua. Sekolah berhenti, sedangkan secara kesehatan dan mental mereka belum siap menjadi orang tua. Pergaulan bebas menjadikan masa depan mereka suram.




Benar adanya bahwa rumah adalah tempat dimulainya peradaban. Maka perilaku baik atau buruk bermula dari rumah. Kontrol dari orang tua melalui komunikasi produktif menjadi hal yang penting dilakukan.

Saatnya menjadi orang tua cerdas dan penuh kasih, sehingga kesibukan dunia tidak melalaikan amanah yang diberikan. Ingat selalu bahwa anak adalah tanggungjawab dunia akhirat. Dan mendidiknya mutlak diperlukan.

Lindungi generasi muda, berikan hak sesuai fitrahnya dan dampingi dengan penuh tanggung jawab. Demikian review hari ke - 13 game level 11. Semoga menjadi pengingat kita semua.

Wassalamualaikum.

Tribun Lampung, Selasa 2 Oktober 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerdas Melakukan Sensor Mandiri, Melindungi Generasi Berprestasi dan Punya Jati Diri

Zaman sekarang, siapa yang belum pernah menonton film atau tayangan program di televisi? Rasanya semua pernah menonton, walau tentu saj...

Popular Posts