Sabtu, 02 Juni 2018

Dukungan Penuh Cinta Pada Disleksia






Assalamualaikum,


Halo apa kabar teman? Semoga selalu dalam keadaan baik, sehat dan bahagia. Ayo tetap semangat untuk terus belajar menjadi lebih baik. Walau masuk bulan Ramadhan, semangat pantang kendur ya, dan tugas di kelas Bunda Sayang Leader tetap harus dikerjakan hehe. Dan tugas kali ini benar – benar mendorong saya untuk banyak belajar mencari referensi yang bisa saya gunakan.


Berbicara mengenai proses belajar, hal yang mudah dilihat sebagian besar orang adalah membaca dan menulis. Begitu pentingnya makna membaca bahkan Allah menurunkan kalamnya di Surat Al Alaq ayat 1 dimulai dengan perintah bacalah. Membaca membuka jendela pengetahuan dan menyingkap rahasia banyak hal dibalik penciptaan.

Dan berkaitan dengan stimulus minat baca, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk senang membaca. Dukungan dan teladan dari keluarga menjadi hal utama. Karena bagaimana seseorang akan senang membaca kalau sekitarnya tidak ada budaya membaca. Membaca juga memerlukan keterampilan yang harus dibumikan sehingga membaca bukan sekedar baca kemudian selesai. Membaca yang baik dapat menangkap pesan yang tersirat dan tersurat dari sumber yang dibaca.

Tapi apakah kita juga tahu bahwa ada sebagian orang yang mengalami kesulitan dalam proses belajar membaca. Bahkan sulit membedakan arah, kanan atau kiri, atas bawah, huruf b atau d, kata ibu atau ubi. Mereka bukan malas atau tak ada waktu untuk membaca, tapi memang mengalami kesulitan untuk membaca. Disleksia...

Ya disleksia, akhirnya saya memilih tema ini. Sebenarnya ada alasan khusus saya memilih tema ini, karena saya pernah bersinggungan dan bersahabat dengan seseorang yang mengalami disleksia ringan. Waktu itu, sahabat saya mengatakan dia harus memakai jam tangan di sebelah kanan untuk membedakan arah mana kanan, mana kiri. Dan saya yang masih awam dengan istilah disleksia hanya mengangguk dan memberikan semangat.

Penderita disleksia memerlukan dukungan dan penanganan khusus terkait proses pembelajaran. Perhatian dari semua pihak akan sangat menbantu. Karena penderita disleksia juga punya bakat tertentu yang dapat digali lebih dalam.

Tetapi apa yang dimaksud dengan disleksia? Menurut Wikipedia, Disleksia ( bahasa Inggris dyslexia) adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca tulis yang umumnya terjadi pada anak menginjak usia 7 hingga 8 tahun. Disleksia ini ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun normal atau di atas rata – rata. Ini termasuk kesulitan dalam penerapan disiplin Ilmu Fonologi, kemampuan bahasa/ pemahaman verbal.

Disleksia merupakan kesulitan belajar yang paling umum dan gangguan membaca yang paling dikenal. Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Bukan hanya berhubungan dengan ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik, tetapi juga dalam berbagai urutan, atas bawah, kanan kiri, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke otak.

Sedangkan menurut alodokter, disleksia adalah gangguan proses belajar di mana seseorang mengalami kesulitan membaca, menulis, mengeja. Penderita disleksia akan mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi bagaiman kata - kata yang diucapkan harus diubah menjadi bentuk huruf dan kalimat, dan sebaliknya.

Akan tetapi, tidak serta merta jika anak mengalami gangguan bicara kemudian dikatakan sebagai disleksia. Karena semua harus melalui observasi dan konsultasi dari yang ahli.

Proses Diagnosis Disleksia

Sebelum meminta bantuan dokter, sebaiknya sebagai orang terdekat harus tahu kelebihan dan kekurangan yang dimiliki penderita disleksia. Misal dengan bermain puzzle. Karena disleksia cenderung sulit untuk dideteksi dan gejalanya beragam. Nah, sebelum memastikan seseorang menderita disleksia, dokter biasanya akan mempertimbangkan beberapa faktor :

1. Riwayat perkembangan, pendidikan, dan kesehatan anak

2. Keadaan rumah, seputar bagaimana keadaan rumah, berapa orang yang tinggal, serta adakah masalah dalam keluarga.

3. Pengisian kuisioner oleh keluarga atau guru

4. Tes untuk memeriksa kemampuan memahami informasi, membaca, memori, dan bahasa anak.

5. Pemeriksaan penglihatan, pendengaran, dan neurologi untuk menyingkirkan kemungkinan adanya penyakit lain yang menyebabkan gejala – gejala yang dialami.

6. Tes penglihatan untuk memahami kondisi kejiwaan anak dan menyingkirkan kemungkinan adanya gangguan interaksi, kecemasan, atau depresi yang mempengaruhi kemampuannya.

Sebagai orangtua atau orang yang dekat dengan penderita disleksia sudah seharusnya peka dan penuh empati memahami kesulitan yang dialami dalam proses belajar, juga membaca. Harus lebih sabar dan menggunakan metode yang membantu penderita untuk terus berjuang agar dapat membaca dengan baik. Ini tentu saja bukan hal yang mudah, tapi tak mustahil penderita disleksia memiliki kelebihan di bidang lain.

Hal yang Dapat Membantu Penderita Disleksia

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membantu penderita disleksia agar dapat meringankan kesulitan belajarnya. Tentu saja semua membutuhkan komitmen dan latihan konsisten dari keluarga, dan lingkungan yang membantunya. Antara lain :

1. Bicarakan dengan anak

Orangtua sebaiknya menjelaskan kondisi yang sesungguhnya pada anak. Semakin baik anak memahami kondisinya, akan semakin baik kemampuannya dalam menghadapi disleksia.

2. Bantu anak dengan teknik belajar yang melibatkan indera pendengaran, penglihatan, dan peraba. Misal mendengar cerita melalui rekaman audio. Sehingga anak terbantu untuk belajar mengenal bunyi yang membentuk kata – kata ( fonem). Memahami huruf – huruf yang mewakili bunyi tadi. Memahami apa yang dibaca, atau dibacakan, dan membuat kosakata. Membacakan cerita dengan suara keras, atau minta anak membaca dengan keras juga.

3. Bangun rasa percaya dirinya dengan baik dan hilangkan kecemasan dalam dirinya.

4.  Memfasilitasi anak dengan menyediakan alat atau tempat belajar yang nyaman di rumah.

5. Jaga hubungan baik dengan guru

Sehingga jika ada perkembangan atau tugas dari sekolah, orangtua dapat membantu anak.

6. Beri dukungan dengan penuh cinta dan kesabaran, serta latih teknik belajarnya dengan memaksimalkan sumber daya yang ada.

7. Tetap konsultasikan dengan ahlinya untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang dicapai.

Dengan melakukan beberapa hal di atas, semoga anak tetap semangat dalam belajar membaca. Karena apa dukungan yang dilakukan orangtua dan lingkungan sekitar hari ini, akan menentukan tahap selanjutnya. Setiap diri adalah unik dan memiliki kelebihan masing – masing. Tinggal orangtua yang harus dapat menemukan kelebihan anak sebagai bekal anak untuk masa yang akan datang. Peradaban dimulai dari rumah, dan keluarga adalah kuncinya.


Wassalamuaaikum


Sumber

https://id.m.wikipedia.org/disleksia


https://www.alodokter.com/disleksia


https://www.deherba.com/bagaimana-cara-membantu-anak-disleksia.html


19 komentar:

  1. Info yg menarik tentang disleksia dan disajikan dgn bahasa yg mudah dipahami

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah berkunjung mbk. Iya, selama ini pun saya masih awam tentang disleksia, hal ini yang mendorong untuk mencari info lebih banyak lagi.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Semoga yang tertulis bermanfaat untuk saya juga yang membaca. Bahwa disleksia butuh perhatian dan dorongan belajar.

      Hapus
  3. Bener banget mba linda... orang2 disleksia perlu diperlakukan dengan cinta. Sedih bila ada orang tua yang masih denial dg kondisi anak yg disleksia :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Iya mbak, suka sedih juga. Mungkin orangtua banyak yang belum paham tentang kondisi disleksia. Dengan banyak sumber, semoga ke depan banyak pihak yang lebih melek dengan disleksia.

      Hapus
  4. Kuncinya "empati" ya mba, berusaha mengerti keadaan mereka 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbk, empati yang tulus dan sikap orangtua yang dapat melejitkan potensi disleksia. Saya pun harus banyak belajar ini hehe.

      Hapus
  5. Penasaran dengan cara mengetahui kelebihan dan kekurangan penderita disleksia dg bermain puzzle.
    Nice topic mbak ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ayo cari tahu lebih banyak mbk. Semoga makin banyak hal yang dapat dijadikan media belajar untuk disleksia, agar dapat tumbuh dan berkembang maksimal.

      Hapus
  6. Sangat bermanfaat untuk mengenal disleksia dan lamgkah yang diambil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbk. Semoga juga makin banyak sumber yang dapat dijadikan bahan untuk para orangtua yang memiliki buah hati disleksia. Karena informasi tentang disleksia sangat penting bagi mereka.

      Hapus
  7. Sepakat sekali bahwa untuk mengetahui secara benar seorang anak menderita disleksia atau tidak, selain pengamatan awal orang tua, perlu observasi dari ahlinya. Tetap semangat membersamai putra/i kita dengan segenap kekuatan dan kelemahannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cocok sekali dengan pendapat mbk Ismi. Bahwa orangtua memiliki peran utama dalam mengamati buah hati sebelum meminta bantuan ahli. Jadi apapun hasilnya terima dengan ikhlas dan penuh syukur.

      Hapus
  8. Sangat inspiratif sekali mba tulisannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbk Feli. Semoga dapat menambah pengetahuan bagi kita semua ya mbk, bahwa di sekitar kita ada mereka ( disleksia ) yang butuh perhatian dan pendampingan penuh cinta.

      Hapus
  9. Lengkap artikelnya, Mba. Dari pengertian, cara mendeteksi secara umum, serta penanganannnya. Sangat membantu bagi yang sedang mencari informasi tentang disleksia. Tak lupa pesan untuk selalu menerima apa pun keadaan anak yang diberikan Allah kepada kita ya, Mba. Dengan cinta dan pengertian, insya Allah tantangan disleksia dapat dihadapi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Mbak Nika, harapan saya semoga yang ditulis dapat memberikan sedikit wawasan bagi yang membutuhkan. Dan pengakuan dan cinta tulus orangtua untuk menerima buah hati dengan disleksia akan menjadi awal dari tumbuhnya potensi mereka, semoga.

      Hapus

Cerdas Melakukan Sensor Mandiri, Melindungi Generasi Berprestasi dan Punya Jati Diri

Zaman sekarang, siapa yang belum pernah menonton film atau tayangan program di televisi? Rasanya semua pernah menonton, walau tentu saj...

Popular Posts