Jumat, 18 Mei 2018

Pulau Pasaran



Melihat kualitas teri saat di jemur
Dok. Foto Slumuth Family

Assalamualaikum,

Jumat penuh berkah semoga hati kita selalu gembira. Alhamdulillah kita memasuki bulan Ramadhan dengan sehat dan gembira. Yup...hati yang gembira akan membawa suasana hati menyenangkan dan bahagia. Sehingga InsyaAllah puasa berjalan lancar, dan ibadah puasa kita diterima Allah SWT aamiin.

Memasuki hari ketujuh dari rencana proyek, maka saatnya saya menuliskan hal penting yang akan mendukung terlaksananya rencana produksi sambal botolan dari LINDA FOOD. Yang dengan sepenuh hati ingin memberikan produk yang lezat, dahsyat, dan halal.

Jadi inilah perjalanan menuju sumber bahan baku yang akan digunakan oleh LINDA FOOD. Yaitu menuju Pulau Pasaran. Masa sudah bertahun di Bandar Lampung belum pernah berkunjung kesana, karena sebenarnya sudah lama sekali saya penasaran dengan Pulau Pasaran yang terkenal sebagai penghasil teri. Lalu berdiskusi berdua, cari hari yang cerah dan longgar berangkat untuk travelling tipis. Nah, ayo ikuti perjalananku ya teman hehe..

Rute Menuju Pulau Pasaran

Saya bersama paksu sudah merancang perjalanan untuk survey bahan baku, yaitu ke Pulau Pasaran. Karena belum tahu rutenya, jadi berdua memutuskan pergi menggunakan taksi online. Dengan jarak tempuh kurang lebih 45 menit dari rumah dengan biaya Rp 30.000,-

Dari Way Halim melewati Jalan Ki Maja - Jl Pahlawan - Jl Teuku Umar - Jl Radin Intan - Patung Gajah - Jl Diponegoro - Jl Hasanudin - Jl Malahayati - Jl RE Martadinata sampai jembatan belok kiri dan menuju Jl Teluk Bone kemudian lurus sampai bertemu Jl Teluk Ratai. Kiri jalan ada gapura selamat datang di Pulau Pasaran, seberang counter Oppo.

Nah, ini di gapura selamat datang, yang menandakan bahwa tujuan sudah benar dan dekat tinggal berjalan kaki untuk menuju pulau atau naik bentor. Kalau bawa motor sendiri langsung saja masuk lurus ikuti jalur gapura.

Gapura selamat datang
Dok. Foto Slumuth Family

Dari gapura kami berdua  jalan kaki, tapi karena cuaca panas, saat tiba di dekat kapal - kapal nelayan yang sedang diperbaiki, berdua memutuskan naik bentor saja untuk melewati jembatan. Jembatan yang ada sangat membantu mobilitas penduduk yang hilir mudik, hanya lebarnya masih kurang. Dan ternyata hihi...tak lama naik bentor kok sudah sampai. Ini karena belum pernah sama sekali, dan letak pulau tertutup hutan Bakau, jadi seakan jauh sekali.

Jangan kaget juga ya teman, saat sudah menginjakkan kaki ke tujuan, aroma khas menusuk hidung, bau ikan yang menyengat. Untuk yang tak tahan, bersiap memakai masker.

Tentang Pulau Pasaran

Setiap tempat yang unik tentu saja memiliki sejarah sendiri, demikian juga dengan Pulau Pasaran  memiliki potensi hasil laut yang luar biasa dan merupakan bagian dari kekayaan kelautan  Propinsi Lampung.

Pulau Pasaran masuk dalam kecamatan Teluk Betung Timur dan terdiri dari 2 RT. Dengan jumlah penduduk kurang lebih 200 jiwa dan berprofesi sebagai nelayan.

Pulau Pasaran adalah pulau penghasil teri terbesar di Lampung. Bahkan produksinya banyak yang dikirim ke Jakarta juga Medan. Selain teri, juga penghasil rebon, ikan asin dan terasi.  Sayangya saat saya ke sana sedang musim terang bulan, sehingga tak banyak tangkapan yang bisa dibawa pulang.

Para - para untuk menjemur teri banyak yang kosong, dan sebagian nelayan memilih menghabiskan waktu dengan membersihkan kapal, mengecat, atau menambal kapal. Padahal saya ingin mengeksplore lebih banyak tentang jenis - jenis teri yang dihasilkan. Ya, mungkin lain kali saat kunjung kedua.

Nelayan mengecat kapal
Dok.foto Slumuth Family

Akhirnya saya dan paksu berkeliling, suasana tampak lengang, sebagian penduduk memilih beraktivitas di dalam rumah, matahari sangat terik dan voila..., saya girang bukan main, ternyata setelah menelusuri sudut - sudut pulau, ada aktivitas pekerja yang sedang mengangkat teri nasi yang kering dan para ibu yang memilah teri berdasarkan ukuran. Mata saya langsung berbinar dan ini tak boleh disia - siakan hehe..

Bersama ibu memilah teri
Dok. Foto Slumuth Family

Langsung saja saya dan paksu mengenalkan diri dan menyapa, sambil ikut memegang teri yang kering. Emm, memang terinya bersih dan saat saya baui aromanya khas teri yang berkualitas. Sembari berbincang ringan, kami berdua dipersilakan berteduh dan duduk, disuguhi air mineral juga Alhamdulillah, bisa melepas dahaga. Walau saya juga membawa botol minum sendiri.  Terlihat sinar matahari sangat terik, cocok untuk menjemur teri.

Menjemur teri
Dok.foto Slumuth Family

Dari hasil berbincang, jadi tahu bahwa saat ini teri sedang jarang karena tangkapan nelyan juga tak seberapa dan karena jarang, harga juga sedang tinggi per kg adalah Rp 100.000,- kalau sedang musim dan panen harga bisa turun kisaran Rp 80.000,- sampai Rp 85.000,-. Sedangkan saat ini musim rebon kecil dengan harga per kilo Rp 30.000,- jadi yang tidak mengolah teri, akan mengolah rebon yang sedang melimpah.

Sembari ikut memilah teri saya juga melihat bahwa banyak tenaga kerja yang terlibat dalam pembuatan teri nasi ini. Aset Propinsi yang luar biasa. Harus diangkat untuk memberikan manfaat yang lebih bagi nelayan. Dan saya pun akhirnya membeli teri nasi dengan harga Rp 100.000,- buat bahan uji coba di rumah. Alias untuk membuat sambal teri.

Jembatan Pulau Pasaran
Dok. Slumut Family

Tak terasa berbincang, adzan Dzuhur berkumandang, kami pun pamit mencari masjid, setelah sholat, kami berkeliling dan bersiap pulang.
Kami pulang dengan berjalan kaki menyusuri jembatan, tak lupa sembari menikmati pemandangan mengambil foto untuk dokumentasi.

Tips yang Perlu Dibawa Saat Ke Pulau Pasaran 

1. Membawa botol minum sendiri, karena cuaca panas agar tak dehidrasi.
2. Memakai sunblock untuk wajah dan tangan yang mengandung SPF aman untuk kegiatan outdoor.
3. Membawa payung juga sangat membantu.
4. Memakai topi lebar, yang melindungi wajah dari sengatan sinar matahari.
5. Bawa bekal makan atau cemilan biar ga kelaparan.


Kesan saat Berkunjung Ke Pulau Pasaran

1. Pengelolaan sampah plastik belum maksimal, masih butuh perhatian semua pihak. Nah bagi kita yang berkunjung, jangan meninggalkan sampah juga di sana.
2. Pengadaan garam krosok yang masih diimpit dari Pulau Jawa untuk mengawetkan teri dan ikan, butuh sentuhan pihak terkait agar nelayan mendapat kemudahan untuk merasakan kesejahteraan.

Namun secara keseluruhan, berkunjung ke Pulau Pasaran sungguh luar biasa. Banyak ilmu yang menambah pengetahuan. Dapat dimasukkan dalam wisata edukasi. Cintai lautmu, maka bumi ini akan berseri.

Demikian kegiatan yang kami lakukan dalam upaya mempersiapkan bahan pendukung untuk rencana produksi di proyek RBI2 ini. Semoga tercapai dengan lancar, LINDA FOOD bisa sukses aamiin. Sambil travelling, sambil cari inspirasi.


Wassalamualaikum


#Linda Dwihapsari, kelompok 35
#RuangBerkaryaIbu
#IbuProfesional
#MandiriBerkaryaPercayaDiriTercipta
#KenaliPotensimuCiptakanRuangBerkaryamu
#Proyek2RBI
#Day7


5 komentar:

  1. ow ow ow.... ternyata di pulau pasaran keren juga ya selain menjadi destinasi wisata juga menjadi tempat usaha pengolahan teri.

    kalo bawa anak kecil gimana ya,, apakah rekomended? atau sebaiknya jangan bawa anak anak.

    BalasHapus
  2. Di sinilah cover novel hujanuari yang melegenda itu hihi.. Tapi emang tempat ini nyaman banget. Dulu hobi berlama lama di sini. Bahkan sehabis shalat subuh langsung on the way ke sini, sore sampe magrib. Ah pulau pasaran simple untuk dikunjungi

    BalasHapus
  3. Ah jadi pengen Mbak ke Pulau Pasaran melihat teri-teri yang banyak dan berkualitas baik dari Lampung ini

    BalasHapus
  4. Thanks sharing infonya, mbak. Aku malah baru tau kalo di Lampung ada tempat pengolahan teri. Perlu nih maen ke Pulau Pasaran.

    BalasHapus
  5. Kalau siang panas banget ya,cocoknya kesana pagi atau sore hari mungkin jd sudah redup.

    Enak banget tuh makan lauk sambal teri.
    Mudah2an lancar usahanya ya mbak 😊

    BalasHapus

Cerdas Melakukan Sensor Mandiri, Melindungi Generasi Berprestasi dan Punya Jati Diri

Zaman sekarang, siapa yang belum pernah menonton film atau tayangan program di televisi? Rasanya semua pernah menonton, walau tentu saj...

Popular Posts