Kamis, 01 Februari 2018

Memahami Gaya Belajar Pasangan





Assalamualaikum

Halo apa kabar semua? Wah sudah beberapa lama tak berjumpa. Semoga tetap semangat untuk terus belajar. Dan tak terasa juga saya sudah masuk game level 4, kelas bunda sayang. Emm makin menantang...


Tentu saja makin menantang, karena materi kali ini berhubungan dengan memahami gaya belajar. Dan di Slumuth Family saling berdiskusi memutuskan bahwa yang melakukan tantangan adalah paksu.
Lucu juga ya, mengamati gaya belajar pasangan, kira - kira kejutan apa yang akan terjadi ke depan nanti? Penasaran hehe.

Setiap individu memiliki gaya belajar sendiri,dan sebagai pasangan saya harus bisa memahami. Ya berdua saling mengamati dan mencatat. Karena setiap proses merupakan hal penting dan jangan terlewat.

Kok harus belajar terus? Iya dong, agar kita tidak masuk kategori buta huruf abad 20 menurut Alvin Toffler. Yang dinyatakan bahwa buta huruf bukan hanya dalam membaca dan menulis. Tapi orang yang tidak mau belajar, tidak mampu belajar dan tidak memiliki keinginan belajar kembali.

Nah hari pertama saya ambil dokumentasi momen kemarin malam, tepatnya Rabu 31 Januari 2018 saat terjadi moment gerhana bulan. Slumuth Family sudah mengagendakan untuk ikut pengamatan di Institut Sumatera yang letaknya tak jauh dari rumah. Mengamati dengan teleskop juga berjamaah sholat gerhana.

Selepas sholat magrib kami berangkat dan tiba di Itera sudah ramai sekali. Walau disediakan banyak teleskop, antrian warga yang antusias mengular panjang. Kami memutuskan menuju masjid kampus sampai sholat Isya. Setelah beres baru deh, ikutan antri.

Wah, luar biasa ramai, dan serunya juga bisa bertemu teman - teman dengan formasi komplit ayah, ibu dan anak. Belajar mengamati dan mendapat pengalaman baru.
Asyik ngobrol sambil antri, lha paksu mana? O..o..dengan lincah bergerak sudah antri di seberang danau yang antriannya pendek. Em..saya biarkan saja paksu dengan teman - temannya berkumpul. Dan saya dengan rombongan ibu - ibu antri dekat tribun.

Walau dapat disaksikan dengan mata telanjang, tapi penasaran juga kalau melihat menggunakan teleskop. Ini kali pertama saya ikut pengamatan xixi...Alhamdulillah masih diberi kesempatan belajar.

Bulan perlahan tertutup bayangan hitam dan menghilang kemudian muncul perlahan. Gerhana bulan kali ini disebut super blue blood moon. Dari awal berwarna kebiruan berubah merah, dan akan lebih merah jika tingkat polusi suatu daerah tinggi. Di Lampung hanya terlihat agak oranye saja. Fenomena alam yang luar biasa MasyaAllah.

Akhirnya setelah menikmati suasana bersama dengan teman - teman, sekitar pukul 21.20 WIB kami pun pulang ke rumah dengan hati penuh rasa takjub akan kebesaran Allah.

Jadi tipe yang mana nih paksu? Seperti tipe kinestetik karena cenderung tak bisa diam, selaku bergerak. Tinggal diamati apakah ada tipe yang lain. Demikian catatan hari pertama di Slumuth Family, sampai jumpa lagi besok.

Wassalamualaikum

Sumber

Materi 4 Bunda Sayang, Tim Fasilitator Bunda Sayang 2018
Pengalam pribadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berapa Jumlah Nastar Yang Dibuat?

Nastar Homemade Assalamualaikum , Mengasah kecerdasan matematika logis untuk anak memang menjadi hal yang luar biasa. Karena se...

Popular Posts